Selasa, 03 Februari 2026

Memulai Home Schooling

Apa yang tidak kita senangi terjadi dalam hidup kita insya Allah ada hikmah di dalamnya. Suamiku dan aku sudah menentukan pilihan untuk menyekolahkan anak kami di Sekolah yang memiliki kurikulum sendiri. Anak pertama kami mulai bersekolah di usia lima tahun, bergabung di kelas TK/PAUD. Aku tahu ada cara lain untuk memberikan pendidikan pada anak-anak, yaitu dengan cara Home Schooling, aku pernah mengikuti seminar terkait hal tersebut. Namun, aku menilai bahwa Home Schooling hanya bisa dilakukan oleh orang tua dengan regulasi emosi yang baik,dan juga finansial yang mapan.

Jika orang tua bisa meregulasi emosinya dengan cara yang baik, dia akan mampu mengajari anaknya sendiri tanpa ada drama memarahi anak. Berarti orang tua yang melaksanakan Home Schooling bagi anaknya adalah orang tua yang sangat sabar. Lalu, jika orang tua dengan finansial yang mapan akan mampu mendelagasikan pekerjaan rumah kepada orang lain, misalnya dengan menyewa asisten rumah tangga. Sehingga perasaan seperti kepala yang mau pecah sebab banyaknya tugas yang harus dikerjakan oleh orang tua dapat diminimalisir. Maka Home Schooling yang dilaksanakan akan berjalan dengan baik, dengan kondisi mental orang tua yang juga terjaga. Penilaianku tersebut benar juga, namun tidak tepat.

Setelah kurang lebih setahun anak kami belajar di Sekolah. Kami mendapati perubahan prilaku pada anak kami yang condong kepada hal yang kurang baik, serta anak kami pun mendapat informasi yang asalnya dari internet melalui cerita dari temannya. Kami sebagai orang tua tentu sangat khawatir, khususnya saya sebagai ibunya. Saya merasa sedih, kecewa, malu, dan merasa sangat bersalah sebagai orang tua. 

Sebagai orang tua, kami harus memberikan lingkungan yang baik dan aman untuk anak-anak kami. Dan kami tidak bisa mengatur anak orang lain agar mereka tidak bebas mengakses internet. Padahal kami harus membatasi apa yang dilihat, dan didengar oleh anak kami, terutama karena mereka masih di usia emas, di mana mereka sangat mudah menyerap informasi, dan juga meniru. Sedangkan akal mereka belum sempurna. Jika anak terus menerus terpapar hal negatif, itu akan sangat berbahaya untuk mereka. Kami sebagai orang tua bertanggungjawab atas diri anak kami. Sehingga dengan penuh pertimbangan kami memutuskan untuk melaksanakan Home Schooling untuk anak-anak kami. 

Di kelas TK ini saya mampu untuk mengajar mereka insya Allah. Untuk jenjang sekolah selanjutnya, kami belum menentukan. Mari kita bahas yang sekarang saja. Apakah saya mampu melaksanakan Home Schooling padahal emosi saya masih sering naik turun? Apakah kami mampu menjalankan Home Schooling padahal finansial kami belum mapan? Tulisan kali ini saya akhiri dengan tanda tanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar