Minggu, 15 Februari 2026
Mirroring dalam Rumah Tangga
Sabtu, 07 Februari 2026
Berani Memilih Homeschooling
Bersama dengan kepindahan kami ke tempat tinggal baru, kami melanjutkan pendidikan anak kami dengan cara yang lain. Kami memilih untuk mengikutsertakan anak kami pada 'sekolah online', karena aku masih belum percaya pada diriku sendiri bahwa aku mampu menjadi guru bagi anak-anakku sendiri. Namun ternyata setelah dijalani kurang lebih dua minggu lamanya, aku memutuskan untuk berhenti dari sekolah online, dan mengambil alih pendidikan anakku sepenuhnya. Sebab, anakku kurang cocok dengan ritme belajar secara online.
Salah satu praktisi homeschooling berpendapat bahwa homeschooling bisa langsung saja dimulai, meskipun dengan persiapan yang sederhana. Jadi, sebetulnya khawatir berlebih itu tidak perlu. Lalu, menurut pengalaman anak-anak dari praktisi tersebut, yang sangat berarti bagi mereka adalah kehadiran orang tua mereka dalam mendidik mereka, meskipun adakalanya orang tua tanpa sengaja menampakkan emosi negatif. Sebab upaya orangtuanya dalam membersamai mereka terasa jauh lebih berharga untuk mereka. Apa yang disampaikan oleh praktisi homeschooling tersebut menjadi nasehat yang baik bagiku, dan membuat aku berani untuk memulai.
Sebelum homeschooling ini kami (Suami dan aku) jalankan pada anak-anak kami, aku memaparkan terlebih dahulu pada suamiku bahwa ada permasalahan A, akibatnya B, keadaannya C, kemudian aku mengajak suamiku untuk mengambil homeschooling sebagai usaha kami untuk memberikan pendidikan yang baik dan menjaga anak kami di usia emasnya ini. Butuh proses untuk meyakinkan suamiku hingga akhirnya ia setuju.
Homeschooling bagi diriku sendiri adalah salah satu bentuk cintaku pada anak-anakku, di mana aku mengurangi kenyamananku, memberikan lebih banyak waktu bagi mereka. Ku kira ini adalah sebuah pengorbananku untuk mereka, di mana aku memberi lebih banyak, tapi ternyata, aku malah mendapat lebih banyak. Sesuatu yang tak bisa diukur dengan apapun, namun hati ini merasakannya begitu dalam.
Selasa, 03 Februari 2026
Memulai Home Schooling
Apa yang tidak kita senangi terjadi dalam hidup kita insya Allah ada hikmah di dalamnya. Suamiku dan aku sudah menentukan pilihan untuk menyekolahkan anak kami di Sekolah yang memiliki kurikulum sendiri. Anak pertama kami mulai bersekolah di usia lima tahun, bergabung di kelas TK/PAUD. Aku tahu ada cara lain untuk memberikan pendidikan pada anak-anak, yaitu dengan cara Home Schooling, aku pernah mengikuti seminar terkait hal tersebut. Namun, aku menilai bahwa Home Schooling hanya bisa dilakukan oleh orang tua dengan regulasi emosi yang baik,dan juga finansial yang mapan.
Jika orang tua bisa meregulasi emosinya dengan cara yang baik, dia akan mampu mengajari anaknya sendiri tanpa ada drama memarahi anak. Berarti orang tua yang melaksanakan Home Schooling bagi anaknya adalah orang tua yang sangat sabar. Lalu, jika orang tua dengan finansial yang mapan akan mampu mendelagasikan pekerjaan rumah kepada orang lain, misalnya dengan menyewa asisten rumah tangga. Sehingga perasaan seperti kepala yang mau pecah sebab banyaknya tugas yang harus dikerjakan oleh orang tua dapat diminimalisir. Maka Home Schooling yang dilaksanakan akan berjalan dengan baik, dengan kondisi mental orang tua yang juga terjaga. Penilaianku tersebut benar juga, namun tidak tepat.
Setelah kurang lebih setahun anak kami belajar di Sekolah. Kami mendapati perubahan prilaku pada anak kami yang condong kepada hal yang kurang baik, serta anak kami pun mendapat informasi yang asalnya dari internet melalui cerita dari temannya. Kami sebagai orang tua tentu sangat khawatir, khususnya saya sebagai ibunya. Saya merasa sedih, kecewa, malu, dan merasa sangat bersalah sebagai orang tua.
Sebagai orang tua, kami harus memberikan lingkungan yang baik dan aman untuk anak-anak kami. Dan kami tidak bisa mengatur anak orang lain agar mereka tidak bebas mengakses internet. Padahal kami harus membatasi apa yang dilihat, dan didengar oleh anak kami, terutama karena mereka masih di usia emas, di mana mereka sangat mudah menyerap informasi, dan juga meniru. Sedangkan akal mereka belum sempurna. Jika anak terus menerus terpapar hal negatif, itu akan sangat berbahaya untuk mereka. Kami sebagai orang tua bertanggungjawab atas diri anak kami. Sehingga dengan penuh pertimbangan kami memutuskan untuk melaksanakan Home Schooling untuk anak-anak kami.
Di kelas TK ini saya mampu untuk mengajar mereka insya Allah. Untuk jenjang sekolah selanjutnya, kami belum menentukan. Mari kita bahas yang sekarang saja. Apakah saya mampu melaksanakan Home Schooling padahal emosi saya masih sering naik turun? Apakah kami mampu menjalankan Home Schooling padahal finansial kami belum mapan? Tulisan kali ini saya akhiri dengan tanda tanya.