Bersama dengan kepindahan kami ke tempat tinggal baru, kami melanjutkan pendidikan anak kami dengan cara yang lain. Kami memilih untuk mengikutsertakan anak kami pada 'sekolah online', karena aku masih belum percaya pada diriku sendiri bahwa aku mampu menjadi guru bagi anak-anakku sendiri. Namun ternyata setelah dijalani kurang lebih dua minggu lamanya, aku memutuskan untuk berhenti dari sekolah online, dan mengambil alih pendidikan anakku sepenuhnya. Sebab, anakku kurang cocok dengan ritme belajar secara online.
Salah satu praktisi homeschooling berpendapat bahwa homeschooling bisa langsung saja dimulai, meskipun dengan persiapan yang sederhana. Jadi, sebetulnya khawatir berlebih itu tidak perlu. Lalu, menurut pengalaman anak-anak dari praktisi tersebut, yang sangat berarti bagi mereka adalah kehadiran orang tua mereka dalam mendidik mereka, meskipun adakalanya orang tua tanpa sengaja menampakkan emosi negatif. Sebab upaya orangtuanya dalam membersamai mereka terasa jauh lebih berharga untuk mereka. Apa yang disampaikan oleh praktisi homeschooling tersebut menjadi nasehat yang baik bagiku, dan membuat aku berani untuk memulai.
Sebelum homeschooling ini kami (Suami dan aku) jalankan pada anak-anak kami, aku memaparkan terlebih dahulu pada suamiku bahwa ada permasalahan A, akibatnya B, keadaannya C, kemudian aku mengajak suamiku untuk mengambil homeschooling sebagai usaha kami untuk memberikan pendidikan yang baik dan menjaga anak kami di usia emasnya ini. Butuh proses untuk meyakinkan suamiku hingga akhirnya ia setuju.
Homeschooling bagi diriku sendiri adalah salah satu bentuk cintaku pada anak-anakku, di mana aku mengurangi kenyamananku, memberikan lebih banyak waktu bagi mereka. Ku kira ini adalah sebuah pengorbananku untuk mereka, di mana aku memberi lebih banyak, tapi ternyata, aku malah mendapat lebih banyak. Sesuatu yang tak bisa diukur dengan apapun, namun hati ini merasakannya begitu dalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar