Kamis, 21 Mei 2026

Di Mana Rumah Itu?

Ada sesuatu yang baru aku pelajari setelah berumahtangga. Yaitu, aku harus menghadapi badaiku sendiri. Sendiri dalam arti tanpa seorang manusia pun.

Waktu aku masib single, ketika aku ada masalah, aku bisa temui teman-temanku untuk sekadar berbagi cerita atau bersukacita untuk membuatku lupa. Setelah menjadi seorang Istri apakah sama?

Aku tetap berada di rumah, tak pergi kemanapun. Pernah aku kalang-kabut, aku kalut, berusaha menelpon teman-temanku, nihil. Aku sangat paham mereka sedang dalam urusannya, akhirnya aku sendirian. Dalam badaiku sendirian.

Bagaimana? Bagaimana? Aku harus mendapat tempat yang tenang, aku sesak, aku tak sanggup. Di mana rumah itu? Kenapa aku tak punya rumah? Ku kira agar tenang aku harus menjauhi badai. Aku terus berdoa, kenapa masih terus begini? Aku butuh tenang.

Tiba-tiba, aku ingin cerita ini jadi singkat saja. Bukan cerita hidupku, tapi cerita yang aku ketik ini. Hehe.

Aku berusaha bangun untuk tahajud. Ku curahkan semuanya saat itu.

Dan, semudah itu Allah memperbaiki keadaan.

Tenang. Dari mana datangnya tenang? Allah. Di mana rumah itu? Di manapun asal bersama Allah.

Allah tunjukan kekuasaan-Nya, bahwa segala kebaikan itu dari Allah, bukan dari 'makhluk'.


Minggu, 15 Februari 2026

Mirroring dalam Rumah Tangga

Ada Buibu yang menyarankan untuk memberi Suami pelajaran dengan mirroring. Maksudnya dengan melakukan sama seperti yang Suami lakukan, jika Suami baik maka Istri pun baik, jika Suami buruk maka Istri pun buruk. Sebab seringkali, Suami tidak mau dinasehati oleh Istri, atau Suami ingin Istri yang baik, namun tetap ingin bebas sebagai laki-laki. Katanya, Suami akan paham, jika merasakan hal yang sama. 

Itu seperti jalan keluar yang baik jika kita melihatnya dengan emosi sesaat, namun itu jalan keluar yang buruk jika kita melihatnya dengan kaca mata Islam. Di mana Allah perintahkan kita untuk beribadah, bertakwa, dan menjauhi kemaksiatan (langkah-langkah) setan.

Jika pasanganmu berbuat buruk (Suami/Istri), kenapa kita harus membalas sama buruknya? Kenapa nilai diri kita diukur dari bagaimana perlakuan orang lain? Bukankah nilai diri kita itu diukur dengan bagaimana kita ingin dilihat oleh Allah? Kita ingin Allah senantiasa ridho dengan diri kita bukan? Kita ingin akhir kehidupan yang baik bukan?

Jika memang 'mirroring' itu bisa membuat pasanganmu sadar? Apakah Allah memberkahinya? Apakah tujuan yang baik, dilaksanakan dengan cara yang buruk? Apakah kemaksiatan yang diikuti dengan kemaksiatan yang semisalnya akan mendatangkan kebaikan dalam rumah tangga? 

Emosi sesaat sering membuat kita lupa, bahwa yang Maha Membolak-balikkan hati adalah Allah, bahwa yang mampu menyadarkan pasangan kita adalah Allah. Kenapa kita mengandalkan diri sendiri padahal kita ini lemah, padahal Allah Maha Kuat?

Jangan rendahkan diri kita karena orang lain merendahkan kita. Maksudnya, jangan melakukan hal hina, demi membalas keburukan orang lain. Jika kita sedang marah, diam sejenak, aku tahu ini tidak mudah tapi insya Allah bisa. Ingat, segala ujian adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, kembalikan pada Allah. Apapun yang terjadi, yang penting adalah bagaimana Allah melihat diri kita, yang penting adalah sampai akhir kehidupan kita, kita tetap berusaha dan berjuang untuk selalu berada dalam keridhoan Allah. Balasan bagi kebaikan bisa di balas di dunia juga di akhirat, Allah Maha Adil, yakinlah.

Ingat, jangan ikuti langkah-langkah setan. Balas keburukan dengan kebaikan, balas kebaikan dengan kebaikan bahkan lebih baik. Berdoalah agar Allah jaga rumah tangga kita dengan sebaik-baik penjagaanNya, dan dijauhkan dari segala perbuatan keji dan mungkar. 

Sabtu, 07 Februari 2026

Berani Memilih Homeschooling

     Bersama dengan kepindahan kami ke tempat tinggal baru, kami melanjutkan pendidikan anak kami dengan cara yang lain. Kami memilih untuk mengikutsertakan anak kami pada 'sekolah online', karena aku masih belum percaya pada diriku sendiri bahwa aku mampu menjadi guru bagi anak-anakku sendiri. Namun ternyata setelah dijalani kurang lebih dua minggu lamanya, aku memutuskan untuk berhenti dari sekolah online, dan mengambil alih pendidikan anakku sepenuhnya. Sebab, anakku kurang cocok dengan ritme belajar secara online. 

    Salah satu praktisi homeschooling berpendapat bahwa homeschooling bisa langsung saja dimulai, meskipun dengan persiapan yang sederhana. Jadi, sebetulnya khawatir berlebih itu tidak perlu. Lalu, menurut pengalaman anak-anak dari praktisi tersebut, yang sangat berarti bagi mereka adalah kehadiran orang tua mereka dalam mendidik mereka, meskipun adakalanya orang tua tanpa sengaja menampakkan emosi negatif. Sebab upaya orangtuanya dalam membersamai mereka terasa jauh lebih berharga untuk mereka. Apa yang disampaikan oleh praktisi homeschooling tersebut menjadi nasehat yang baik bagiku, dan membuat aku berani untuk memulai.

    Sebelum homeschooling ini kami (Suami dan aku) jalankan pada anak-anak kami, aku memaparkan terlebih dahulu pada suamiku bahwa ada permasalahan A, akibatnya B, keadaannya C, kemudian aku mengajak suamiku untuk mengambil homeschooling sebagai usaha kami untuk memberikan pendidikan yang baik dan menjaga anak kami di usia emasnya ini. Butuh proses untuk meyakinkan suamiku hingga akhirnya ia setuju.

    Homeschooling bagi diriku sendiri adalah salah satu bentuk cintaku pada anak-anakku, di mana aku mengurangi kenyamananku, memberikan lebih banyak waktu bagi mereka. Ku kira ini adalah sebuah pengorbananku untuk mereka, di mana aku memberi lebih banyak, tapi ternyata, aku malah mendapat lebih banyak. Sesuatu yang tak bisa diukur dengan apapun, namun hati ini merasakannya begitu dalam.

Selasa, 03 Februari 2026

Memulai Home Schooling

Apa yang tidak kita senangi terjadi dalam hidup kita insya Allah ada hikmah di dalamnya. Suamiku dan aku sudah menentukan pilihan untuk menyekolahkan anak kami di Sekolah yang memiliki kurikulum sendiri. Anak pertama kami mulai bersekolah di usia lima tahun, bergabung di kelas TK/PAUD. Aku tahu ada cara lain untuk memberikan pendidikan pada anak-anak, yaitu dengan cara Home Schooling, aku pernah mengikuti seminar terkait hal tersebut. Namun, aku menilai bahwa Home Schooling hanya bisa dilakukan oleh orang tua dengan regulasi emosi yang baik,dan juga finansial yang mapan.

Jika orang tua bisa meregulasi emosinya dengan cara yang baik, dia akan mampu mengajari anaknya sendiri tanpa ada drama memarahi anak. Berarti orang tua yang melaksanakan Home Schooling bagi anaknya adalah orang tua yang sangat sabar. Lalu, jika orang tua dengan finansial yang mapan akan mampu mendelagasikan pekerjaan rumah kepada orang lain, misalnya dengan menyewa asisten rumah tangga. Sehingga perasaan seperti kepala yang mau pecah sebab banyaknya tugas yang harus dikerjakan oleh orang tua dapat diminimalisir. Maka Home Schooling yang dilaksanakan akan berjalan dengan baik, dengan kondisi mental orang tua yang juga terjaga. Penilaianku tersebut benar juga, namun tidak tepat.

Setelah kurang lebih setahun anak kami belajar di Sekolah. Kami mendapati perubahan prilaku pada anak kami yang condong kepada hal yang kurang baik, serta anak kami pun mendapat informasi yang asalnya dari internet melalui cerita dari temannya. Kami sebagai orang tua tentu sangat khawatir, khususnya saya sebagai ibunya. Saya merasa sedih, kecewa, malu, dan merasa sangat bersalah sebagai orang tua. 

Sebagai orang tua, kami harus memberikan lingkungan yang baik dan aman untuk anak-anak kami. Dan kami tidak bisa mengatur anak orang lain agar mereka tidak bebas mengakses internet. Padahal kami harus membatasi apa yang dilihat, dan didengar oleh anak kami, terutama karena mereka masih di usia emas, di mana mereka sangat mudah menyerap informasi, dan juga meniru. Sedangkan akal mereka belum sempurna. Jika anak terus menerus terpapar hal negatif, itu akan sangat berbahaya untuk mereka. Kami sebagai orang tua bertanggungjawab atas diri anak kami. Sehingga dengan penuh pertimbangan kami memutuskan untuk melaksanakan Home Schooling untuk anak-anak kami. 

Di kelas TK ini saya mampu untuk mengajar mereka insya Allah. Untuk jenjang sekolah selanjutnya, kami belum menentukan. Mari kita bahas yang sekarang saja. Apakah saya mampu melaksanakan Home Schooling padahal emosi saya masih sering naik turun? Apakah kami mampu menjalankan Home Schooling padahal finansial kami belum mapan? Tulisan kali ini saya akhiri dengan tanda tanya.


Rabu, 28 Januari 2026

Queen of The House

Dari awal pernikahan aku sangat mengapresiasi kebaikan suamiku, sampai cukup lama seperti itu. Tanpa aku sadari, aku telah melupakan diriku sendiri. Aku hanya melihat pada diri orang lain, padahal ada diriku yang harus aku lihat lebih dulu. Aku hanya memperhatikan orang lain, padahal ada diriku yang harus aku perhatikan lebih dulu.

Suatu saat aku sedang marah, lalu dengan kesal aku memesan baju daster untukku. Ya, aku membeli untuk diriku sendiri, selama ini aku selalu mengutamakan anak-anakku, aku mengutamakan suamiku apakah ada pakaiannya yang bolong? Kalau ada rizkinya aku pesankan yang baru untuknya. Padahal dasterku juga buluk, bolong.

Aku berproses untuk kembali melihat pada diriku sendiri, menyayangi, dan mencintai diriku. Walaupun prosesnya melalui kemarahan atau konflik. Belajar itu tidak selalu mudah, ada kalanya sulit, dan berat. Tidak apa-apa kok, namanya juga belajar. Setelah melalui itu aku bisa menjadi pribadi yang lebih tenang Alhamdulillah.

Betapa baiknya aku bersedia mendampingi suamiku di saat sulitnya, membersamainya merintis karier, mendukungnya dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Bersama suamiku yang baik ada aku istrinya yang mendampinginya, bersabar menghadapi dirinya yang kompleks, dan lika-liku rumah tangga bersamanya. 

Aku senang kali ini ada cermin di rumah, karena aku jadi bisa melihat dan menata diriku. Diriku sungguh pantas untuk dirawat. 

Suamiku tidak berdiri sendiri, ada aku yang mendampinginya, anakku tidak tumbuh sendiri, ada aku yang mendidiknya. Aku adalah seorang Istri dan Ibu. Keberadaanku di rumah sungguh berharga dan tak ternilai. Sebaik-baik pemberi balasan adalah Allah.

Aku adalah Istri yang doanya mustajab untuk suamiku, aku adalah Ibu yang doanya mustajab untuk anak-anakku. Semuanya atas izin Allah.

Ini bukan sombong. Tapi ternyata, lama sekali aku lupa dengan semua itu. 

Senin, 10 November 2025

Mencintaimu Sayang

Sayangku 

Mencintaimu di saat berbunga begitu mudahnya
Mencintaimu di saat sulit begitu relanya

Namun

Mencintaimu di saat kamu begitu mengesalkan sungguh berat bagiku 

Sayangku 

Apakah aku pernah berjanji akan selalu mencintaimu?

Aku lupa 

Maafkan 

Namun aku berjanji akan senantiasa mencintai Rabb-ku, aku akan berusaha membuat Rabb-ku ridho

Sayangku

Apakah kamu akan bersedih jika kehilanganku

Jangan

Jangan kehilanganku

Jangan kehilangan Rabb-ku

Sayangku

Tenang itu ada pada Allah

Aku kembali pada Allah

Sayangku cintaku kasihku 

Kamu paling keren di mataku 

~ Putri Blume

Selasa, 04 November 2025

Ikhtilat dan Tanggung Jawab

Aku tu sering khawatir ya dengan lingkungan kerja yang campur baur atau disebut ikhtilat, yang itu dilarang dalam Islam. Tapi kan, kita hidup di mana aturan Islam tidak diterapkan, di manapun nggak ada yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh. Padahal fitnah/bahayanya guedeee banget lho, makanya yang namanya ikhtilat/campur baur itu dilarang. Itu jalannya setan buat ngegoda manusia kepada zina.

Di zaman ini kita harus berdiri sendiri, memegang teguh prinsip/aturan Allah tanpa ada hukuman nyata di depan mata. Memegang teguh agama ini seperti memegang bara api, yang artinya itu butuh banget perjuangan. Karena fasilitas untuk bermaksiat amat banyak tersedia. 

Buat aku yang ibu rumah tangga, ikhtilat itu sangat minim terjadi, sebab kebanyakan kegiatanku ya di rumah. Berbeda dengan Suami yang harus kerja di luar. Meskipun ada yang namanya campur baur, Suami harus selalu menjaga dirinya karena Allah, tidak menya-menye, ngobrol di luar kerjaan, dan bercanda sama lawan jenis. Itu semua Suami lakukan karena Allah. 

Kalau udah waktunya pulang juga gercep pulang ke rumah, yang belum kelar lanjutkan di rumah, ya kali lebih milih lembur bareng sama lawan jenis? Lebih milih mencari bahaya, menantang peringatan Rasul Allah. Menyukai tantangan bagus aja, tapi bukan menantang peringatan Allah dan Rasul-Nya kaleeee? Balik lagi ya memegang agama ini seperti memegang bara api, bawa kerjaan ke rumah memang nggak mudah, tapi bersabar dalam kebaikan itu jauh lebih baik.

Biar gimanapun, Istri nggak ada tanggung jawab untuk menjaga Suami. Tugas Istri ya jadi Istri dan Ibu yang baik di mata Allah. Ngapain sih nambah-nambahin jobdesk? Suami itu mampu menjaga dirinya sendiri, Suami itu cerdas paham perintah dan larangan Allah.

Laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, gitu juga sebaliknya. Kalau berbeda, Allah yang akan pisahkan. 

Pemimpin rumah tangga memiliki tanggung jawab memimpin rumah tangga ini menuju keridhoan Allah. DIA YANG AKAN BERTANGGUNGJAWAB DI HADAPAN ALLAH ☝🏻