Suatu saat aku sedang marah, lalu dengan kesal aku memesan baju daster untukku. Ya, aku membeli untuk diriku sendiri, selama ini aku selalu mengutamakan anak-anakku, aku mengutamakan suamiku apakah ada pakaiannya yang bolong? Kalau ada rizkinya aku pesankan yang baru untuknya. Padahal dasterku juga buluk, bolong.
Aku berproses untuk kembali melihat pada diriku sendiri, menyayangi, dan mencintai diriku. Walaupun prosesnya melalui kemarahan atau konflik. Belajar itu tidak selalu mudah, ada kalanya sulit, dan berat. Tidak apa-apa kok, namanya juga belajar. Setelah melalui itu aku bisa menjadi pribadi yang lebih tenang Alhamdulillah.
Betapa baiknya aku bersedia mendampingi suamiku di saat sulitnya, membersamainya merintis karier, mendukungnya dalam kehidupan dunia dan akhiratnya. Bersama suamiku yang baik ada aku istrinya yang mendampinginya, bersabar menghadapi dirinya yang kompleks, dan lika-liku rumah tangga bersamanya.
Aku senang kali ini ada cermin di rumah, karena aku jadi bisa melihat dan menata diriku. Diriku sungguh pantas untuk dirawat.
Suamiku tidak berdiri sendiri, ada aku yang mendampinginya, anakku tidak tumbuh sendiri, ada aku yang mendidiknya. Aku adalah seorang Istri dan Ibu. Keberadaanku di rumah sungguh berharga dan tak ternilai. Sebaik-baik pemberi balasan adalah Allah.
Aku adalah Istri yang doanya mustajab untuk suamiku, aku adalah Ibu yang doanya mustajab untuk anak-anakku. Semuanya atas izin Allah.
Ini bukan sombong. Tapi ternyata, lama sekali aku lupa dengan semua itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar